Sikap NU di tengah situasi dan kondisi yang tidak stabil

Di penghujung tahun 1944, ketika situasi perang Pasifik semakin memanas, beberapa pucuk pimpinan NU --seperti K.H. Mahfudz Shiddiq-- terkena fitnah dan ditangkap oleh tentara Nippon, dan kekejaman Penjajah Jepang semakin menjadi-jadi yg membuat rakyat semakin sengsara, kelaparan, dan miskin.. dan di sisi lain perjuangan semakin bergelora dengan lahirnya Peta dan Barisan Hizbullah-Sabilillah yg diam-diam bersiap mengambil alih kekuasaan... maka HBNU melalui Plh Ketua Umum K.H.A. Wahid Hasyim merespon dengan mengkampanyekan gerakan Mabadi' Nashrillah (membangun pondasi datangnya pertolongan Allah) yg isinya tiga hal:

1. Tazawaru ba'dhuhum ba'dha, saling mengunjungi antar sesama pimpinan elemen umat dan bangsa. Kunjungan untuk saling menguatkan, saling mendukung, dan saling mendoakan.

2. Tawashau bil Haqq wa tawashau bish shabr, senantiasa saling menasehati, mengingatkan dan memberi masukan ttg perkara yg benar dgn cara yg sabar (dan santun).

3. Riyadhah Ruhaniyah, memperkuat gerakan Ruhani, mendekatkan diri kepada Allah, dengan menghidupkan majelis-majelis dzikir dan doa, serta mujahadah dan istighatsah, memohon kesabaran, kekuatan dan keteguhan hati dalam perjuangan kemerdekaan.

Mabadi' Nashrillah ini adalah perubahan strategi dan respon atas perubahan situasi, adaptasi atas perkembangan keadaan yg terus dilakukan oleh NU dalam rangka membela dan membina umat dan bangsa.

Sebelumnya, sekitar tahun 1934, ketika tanah air masih dalam cengkeraman penjajahan Belanda, di mana situasi relatif stabil, meski tidak bisa juga dibilang aman dan nyaman, maka NU memilih strategi perjuangan damai, dengan gerakan Mabadi' Khaira Ummah (membangun pondasi-pondasi menjadi umat terbaik), yg isinya :
1. Ash-Shidqu, membudayakan kejujuran, konsistensi nalar, rasa dan sikap, serta keberpihakan pada sesuatu yg diyakini kebenarannya.

2. Al-Amanah wal Wafa' bil 'ahdi, membangun semangat akuntabilitas, komitmen terhadap janji, seraya menjauhi perilaku dan budaya korup.

3. Al-Mu'awanah, gerakan saling membantu, saling menopang, dan saling menguatkan. Di berbagai daerah masyarakat didorong untuk memperkuat gotong royong menghidupkan kegiatan pendidikan dan keagamaan.

Dan saat ini, ketika hasutan dan fitnah kembali merajalela, situasi politik kembali memanas, marilah kita --warga Nahdliyyin-- kembali kepada gerakan-gerakan dasar ala NU..

- Saling bersilaturahmi untuk saling menguatkan ikatan batin, mentabayunkan setiap hal yg berpotensi memecah belah bangsa dan saling menasehati dalam kebaikan.

- Memulai kembali gerakan jujur dan adil dari diri kita, dari hal yg paling sederhana dan sehari-kita lakukan.

- menguatkan gerakan saling tolong menolong, saling bantu membantu di lingkungan terdekat, saling menjaga keamanan dan kenyamanan berelasi. Tentu sambil saling menopang dan memberdayakan kekuatan masing-masing individu.

- menghidupkan atau merevitalisasi gerakan-gerakan Ruhaniyah, nderekne para ulama yg shalih... memohon keutuhan bangsa, keamanan dan keselamatan dari segala macam bala'dan fitnah yg mengancam umat dan bangsa ini...

Itu....

Ciketing - Bekasi, 11-10-18